Surabaya – Kegiatan Kompetisi Nasional Esai Arsitektur(KTA) 2026 diawali dengan registrasi peserta, kemudiandilanjutkan dengan pembukaan dan kata sambutan dari FX Teddy Badai Samodra, S.T., M.T., Ph.D. dan Tisya Surya, S.Ars., M.Ars. selaku ketua panitia KTA 2026.
Kompetisi ini menghadirkan sejumlah akademisi sebagaidewan juri. Juri yang hadir di antaranya Dr. Dewi Septanti, S.Pd., S.T., M.T., Ph.D., dosen Institut Teknologi SepuluhNopember (ITS), Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D., dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), serta AffridaAmalia, S.Ars., M.Par., dosen UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
Final KTA 2026 dihadiri oleh delapan finalis yang berasaldari beberapa perguruan tinggi, yaitu UIN Malang, ITS, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), UINSA, dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Yang berhasilmengalahkan peserta lain dari seluruh Indonseia di babakpenyisihan. Kehadiran berbagai perguruan tinggi tersebutmenjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk bertemu, berkompetisi, dan bertukar gagasan mengenai berbagaipersoalan arsitektur.
Salah satu tim yang berhasil mencapai tahap final berasaldari Program Studi Arsitektur UIN Sulthan ThahaSaifuddin Jambi. Tim tersebut terdiri dari tiga mahasiswa, yaitu Olifia, Nurfadel Afriel Delfiana, dan Harfika Husnul Qotimah.
Ketiganya membawa esai berjudul “GULMA (Gerakan Utilitas Limbah Mandiri Akuatik)” yang mengangkatpersoalan eceng gondok dan adaptasi lingkungan di Kelurahan Legok, Jambi. Melalui esai tersebut, timmengembangkan gagasan pengelolaan eceng gondoksebagai biomassa yang dihubungkan dengan upayapengelolaan air dan adaptasi lingkungan pada Kawasan binaan.
Gagasan GULMA berangkat dari persoalan lingkunganyang dekat dengan kehidupan masyarakat Jambi. Tim mencoba melihat permasalahan eceng gondok secara lebihterpadu sekaligus menggali potensi pemanfaatan limbahbiomassa sebagai bagian dari siklus material yang dapatkembali masuk ke lingkungan binaan. Melalui arang ecenggondok sebagai media filtrasi dan eceng gondok keringsebagai bagian dari bronjong ekologis, gagasan ini tidakberhenti pada pengelolaan limbah, tetapi diarahkanmenjadi sebuah sistem infrastruktur hijau yang dapatterintegrasi dengan lanskap dan ruang publik.”
Dalam kompetisi tersebut, tim UIN STS Jambi berhasilmencapai tahap final dan masuk dalam 10 besar. Pencapaian ini menjadi pengalaman bagi mahasiswa UIN STS Jambi untuk bersaing dengan peserta dari berbagaiperguruan tinggi sekaligus membawa persoalanlingkungan lokal Jambi ke tingkat nasional.
Pada babak final, Olifia menjadi perwakilan tim yang hadir secara luring dalam presentasi final di Surabaya, dengan didampingi oleh Shinta Oktaviana, S.T., M.P.W.K.sebagai dosen pembimbing. Olifia mewakili tim dalammempresentasikan gagasan GULMA dan mengikuti proses penjurian secara langsung.
Selain mengikuti kompetisi, tim arsitektur UIN STS Jambijuga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungilingkungan akademik departemen arsitektur ITS. Selamakunjungan, mereka mendapat sambutan yang baik daripara tenaga pengajar ITS dan kemudian didampingi untukberkeliling mengunjungi berbagai laboratorium arsitekturyang ada di lingkungan departemen arsitektur ITS.
Pihak UIN STS Jambi mendapatkan kesempatan untukmelihat fasilitas yang tersedia sekaligus mengetahuiberbagai kegiatan akademik dan bidang kajian yang dikembangkan di dalamnya.
Lima laboratorium yang diperkenalkan meliputi Lab Perancangan Kota, Lab Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur, Lab Perumahan dan Permukiman, Lab Perancangan Arsitektur, serta Lab Sains dan TeknologiArsitektur. Setiap laboratorium memiliki dosen yang diutus untuk mendampingi peserta dan memberikanpenjelasan mengenai bidang serta aktivitas yang dilakukandi laboratorium tersebut.
Sambutan dan pendampingan yang diberikan selamakunjungan membuat kegiatan tersebut tidak hanya menjadikunjungan singkat, tetapi juga menjadi kesempatan bagimahasiswa UIN STS Jambi untuk mengenal lingkunganakademik ITS secara lebih dekat. Bagi Olifia, pengalamantersebut memberikan wawasan baru mengenai fasilitaspendidikan, penelitian, dan berbagai bidang kajian dalamarsitektur.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup denganpengumuman pemenang. Juara pertama diraih peserta dariUniversitas Negeri Yogyakarta (UNY), juara kedua dariITS, dan juara ketiga dari UINSA. Sementara itu, tim UIN STS Jambi berhasil menyelesaikan kompetisi hingga tahapfinal dan masuk dalam jajaran 10 besar.
Keikutsertaan Olifia, Nurfadel Afriel Delfiana, dan Harfika Husnul Qotimah menjadi pengalaman pentingbagi mahasiswa Arsitektur UIN STS Jambi. MelaluiGULMA, mereka membawa persoalan lingkungan di Kelurahan Legok Jambi ke dalam forum nasionalsekaligus mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkompetisi, dan bertukar gagasan dengan mahasiswaserta akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.






